Suku moro diyakini sebagai suku yang dahulu pernah berdiam di jailolo
(halmahera), dibawah kepemimpinan seorang raja yang adil dan bijaksana,
kemudian sekitar abad ke lima belas saat portugis masuk ke bumi
halmahera, menjajah dan mengambil rempah-rempah, menarik pajak yang
sangat tinggi dari warga setempat, mengadu domba hingga terjadilah
pergolakan dan perang saudara. Ditengah kecamuk perang saudara, kerajaan
jailolo yang dihuni oleh suku moro dibawah perintah sang raja
memutuskan untuk melarikan diri ke hutan, setelah lama menghilang ke
dalam hutan suku ini diyakini masyarakat halmahera telah gaib tapi kisah
interaksi masyarakat setempat dengan suku moro ini masih terdengar
hingga saat ini.
Suku moro bukanlah suku terasing yang ada di kepulauan halmahera seperti
halnya suku togutil yang menyebar dan berdiam dihutan-hutan kepulauan
halmahera seperti di tobelo, kao, dodaga dan wilayah lain dihalmahera,
keberadaan suku togotil masih bisa dilacak hingga saat ini, walapun
tentu saja tidak mudah bertemu mereka, karena layaknya suku terasing
diwilayah lain indonesia suku togutil tidak suka atau tidak mau bertemu
dengan orang asing. Mengenai suku moro sendiri ada beberapa tetua
(pemuka adat atau orang yang dituakan di morotai) yang mengatakan bahwa
suku moro adalah penduduk asli pulau morotai, suatu pulau yang berada
diujung halmahera utara dan merupakan pulau paling utara dari gugusan
kepulauan indonesia, tapi tidak pernah dijelaskan apakah ada hubungan
antara suku moro yang misterius dengan suku moro di filipina.
hingga saat ini diyakini perkampungan suku moro masih ada, seperti
halnya di morotai desa tempat kelahiran saya, banyak pantangan untuk
tidak sembarang menebang pohon atau membunuh binatang karena diyakini
pohon atau binatang itu adalah jelmaan dari salah satu suku moro, ada
cerita nyata perihal penduduk setempat yang pernah berjumpa dengan suku
moro, sebutlah namanya kasim, suatu ketika saat kasim hendak ke
ladangnya ia melihat sepasang ular belang, karena takut digigit ular
tersebut kasim pun membunuh kedua ekor ular tersebut, tak berapa lama ia
mengalami suatu hal yang aneh ia pingsan dan ketika sadar ia telah
berada disalah satu rumah yang ternyata rumah itu adalah rumah kepala
kampung (lurah), singkat cerita ternyata kedua ekor ular yang ia bunuh
tersebut adalah jelmaan dari warga suku moro, setelah meminta maaf atas
ketidak tahuannya, sang kepala desa suku moro mengijinkan kasim untuk
kembali ke dunia nyata, kemudian kepala desa meminta kasim untuk membawa
satu rangkai buah pinang berwarna kuning (yang telah masak) dan satu
rangkai buah pinang berwarna hijau (masih muda/belum masak), tapi kasim
menolak dengan alasan di kampungnya juga banyak terdapat buah pinang,
demi menghormati sang kepala desa ia mangambil sebiji buah pinang
berwarna hijau, tak lama sang kepala desa membawa kasim kesebuah telaga
diperintahkannya kasim untuk membasuh muka, setelah membasuh muka kasim
telah berada di tempat semula ia membunuh ke dua ekor ular tadi,
pulanglah ia ke rumahnya, betapa kagetnya ketika ia temukan keluarganya
sedang memperingati tujuh hari kematiannya, tujuh hari lamanya ia tidak
kembali dan keluarganya meyakini ia telah mati, kasim pun menceritakan
hal yang ia alami, sejurus kemudian kasim mengeluarkan buah pinang
berwarna hijau dari kepala desa suku moro, betapa kagetnya karena buah
pinang yang ada ditangannya kini berubah menjadi sebongkah perak
berbentuk buah pinang.
Cerita tentang warga muslim yang mendapat bantuan dari suku moro tatkala
terjadinya perang antar agama di pulau halmahera lebih dari sepuluh
tahun yang lalu juga banyak beredar di masyarakat. Terlepas dari benar
atau tidaknya cerita diatas keberadaan suku moro perlu mendapat
penelitian lebih jauh dan perlunya mengurai benang merah antara
keberadaan suku moro di filipina dengan suku moro di halmahera serta
keberadaan pulau dengan nama morotai apakah semua ada hubungannya atau
hanya suatu kebetulan belaka, menjadi suatu tantangan tersendiri untuk
mengetahui sejarah dan kebenarannya demi langgengnya adat istiadat
serta menambah khasanah kebudayaan bangsa.
Semoga.
Rabu, 02 Januari 2013
Suku Sasak
Suku Sasak adalah sukubangsa yang mendiami pulau Lombok dan menggunakan bahasa Sasak. Sebagian besar suku Sasak beragama Islam,
uniknya pada sebagian kecil masyarakat suku Sasak, terdapat praktik
agama Islam yang agak berbeda dengan Islam pada umumnya yakni Islam Wetu Telu,
namun hanya berjumlah sekitar 1% yang melakukan praktek ibadah seperti
itu. Ada pula sedikit warga suku Sasak yang menganut kepercayaan
pra-Islam yang disebut dengan nama "sasak Boda".
Asal Nama
Asal nama sasak kemungkinan berasal dari kata sak-sak yang artinya sampan. Dalam Kitab Negara Kertagama kata Sasak disebut menjadi satu dengan Pulau Lombok. Yakni Lombok Sasak Mirah Adhi. Dalam tradisi lisan warga setempat kata sasak dipercaya berasal dari kata "sa'-saq" yang artinya yang satu. Kemudian Lombok berasal dari kata Lomboq yang artinya lurus. Maka jika digabung kata Sa' Saq Lomboq artinya sesuatu yang lurus. banyak juga yang menerjemahkannya sebagai jalan yang lurus. Lombo Mirah Sasak Adi adalah salah satu kutipan dari kakawin Nagarakretagama ( Desawarnana ), sebuah kitab yang mnemuat tentang kekuasaan dan kepemerintahaan kerajaan Majapahit, gubanan Mpu Prapanca. kata "lombok" dalam bahasa kawi berarti lurus atao jujur, "Mirah" berarti permata, "sasak" berarti kenyataan dan "adi" artinya yang baik atau yang utama. Maka Lombok Mirah Sasak Adi berarti kejujuran adalah permata kenyataan yang baik atau utama.Adat
Adat istiadat suku sasak dapat anda saksikan pada saat resepsi perkawinan, dimana perempuan apabila mereka mau dinikahkan oleh seorang lelaki maka yang perempuan harus dilarikan dulu kerumah keluarganya dari pihak laki laki, ini yang dikenal dengan sebutan merarik atau selarian. Sehari setelah dilarikan maka akan diutus salah seorang untuk memberitahukan kepada pihak keluarga perempuan bahwa anaknya akan dinikahkan oleh seseorang, ini yang disebut dengan mesejati atau semacam pemberitahuan kepada keluarga perempuan. Setalah selesai makan akan diadakan yang disebut dengan nyelabar atau kesepakatan mengenai biaya resepsi.Suku Dayak
Kata Dayak
berasal dari kata "Daya" yang artinya hulu, untuk menyebutkan
masyarakat yang tinggal di pedalaman atau perhuluan Kalimantan umumnya
dan Kalimantan Barat.
Ada pelbagai pendapat tentang asal-usul orang Dayak, tetapi setakat ini belum ada yang betul-betul memuaskan। Namun, pendapat yang diterima umum menyatakan bahawa orang Dayak ialah salah satu kelompok asli terbesar dan tertua yang mendiami pulau Kalimantan (Tjilik Riwut 1993: 231)। Gagasan tentang penduduk asli ini didasarkan pada teori migrasi penduduk ke Kalimantan। Bertolak dari pendapat itu adalah dipercayai bahawa nenek moyang orang Dayak berasal dari China Selatan, sebagaimana yang dinyatakan oleh Mikhail Coomans (1987: 3):
Semua suku bangsa Daya termasuk pada kelompok yang bermigrasi secara besar-besaran dari daratan Asia. Suku bangsa Daya merupakan keturunan daripada imigran yang berasal dari wilayah yang kini disebut Yunnan di Cina Selatan. Dari tempat itulah kelompok kecil mengembara melalui Indo China ke jazirah Malaysia yang menjadi loncatan untuk memasuki pulau-pulau di Indonesia, selain itu, mungkin ada kelompok yang memilih batu loncatan lain, yakni melalui Hainan, Taiwan dan Filipina. Perpindahan itu tidak begitu sulit, kerana pada zaman glazial (zaman es) permukaan laut sangat turun (surut), sehingga dengan perahu-perahu kecil sekalipun mereka dapat menyeberangi perairan yang memisahkan pulau-pulau itu.
Orang-orang Dayak ialah penduduk pulau Kalimantan yang sejati, dahulu mereka ini mendiami pulau Kalimantan, baikpun pantai-pantai baikpun sebelah ke darat। Akan tetapi tatkala orang Melayu dari Sumatera dan Tanah Semenanjung Melaka datang ke situ terdesaklah orang Dayak itu lalu mundur, bertambah lama, bertambah jauh ke sebelah darat pulau Kalimantan
Teori tentang migrasi ini sekaligus boleh menjawab persoalan: mengapa suku bangsa Dayak kini mempunyai begitu banyak sifat yang berbeza, sama ada dalam bahasa maupun dalam ciri-ciri budaya mereka
Dewasa ini suku bangsa Dayak terbagi dalam enam rumpun besar, iaitu Kenyah-Kayan-Bahau, Ot Danum, Iban, Murut, Klemantan dan Punan। Keenam rumpun ini terbagi lagi kepada lebih kurang 405 sub suku. Meskipun terbagi kepada ratusan sub suku, kelompok suku Dayak memiliki kesamaan ciri-ciri budaya yang khas। Ciri-ciri tersebut menjadi faktor penentu salah suatu sub suku di Kalimantan dapat dimasukkan ke dalam kelompok Dayak। Ciri-ciri tersebut ialah rumah panjang, hasil budaya material seperti tembikar, mandau, sumpit beliong (kapak Dayak) pandangan terhadap alam, mata pencarian (sistem perladangan) dan seni tari.
Ada pelbagai pendapat tentang asal-usul orang Dayak, tetapi setakat ini belum ada yang betul-betul memuaskan। Namun, pendapat yang diterima umum menyatakan bahawa orang Dayak ialah salah satu kelompok asli terbesar dan tertua yang mendiami pulau Kalimantan (Tjilik Riwut 1993: 231)। Gagasan tentang penduduk asli ini didasarkan pada teori migrasi penduduk ke Kalimantan। Bertolak dari pendapat itu adalah dipercayai bahawa nenek moyang orang Dayak berasal dari China Selatan, sebagaimana yang dinyatakan oleh Mikhail Coomans (1987: 3):
Semua suku bangsa Daya termasuk pada kelompok yang bermigrasi secara besar-besaran dari daratan Asia. Suku bangsa Daya merupakan keturunan daripada imigran yang berasal dari wilayah yang kini disebut Yunnan di Cina Selatan. Dari tempat itulah kelompok kecil mengembara melalui Indo China ke jazirah Malaysia yang menjadi loncatan untuk memasuki pulau-pulau di Indonesia, selain itu, mungkin ada kelompok yang memilih batu loncatan lain, yakni melalui Hainan, Taiwan dan Filipina. Perpindahan itu tidak begitu sulit, kerana pada zaman glazial (zaman es) permukaan laut sangat turun (surut), sehingga dengan perahu-perahu kecil sekalipun mereka dapat menyeberangi perairan yang memisahkan pulau-pulau itu.
Orang-orang Dayak ialah penduduk pulau Kalimantan yang sejati, dahulu mereka ini mendiami pulau Kalimantan, baikpun pantai-pantai baikpun sebelah ke darat। Akan tetapi tatkala orang Melayu dari Sumatera dan Tanah Semenanjung Melaka datang ke situ terdesaklah orang Dayak itu lalu mundur, bertambah lama, bertambah jauh ke sebelah darat pulau Kalimantan
Teori tentang migrasi ini sekaligus boleh menjawab persoalan: mengapa suku bangsa Dayak kini mempunyai begitu banyak sifat yang berbeza, sama ada dalam bahasa maupun dalam ciri-ciri budaya mereka
Dewasa ini suku bangsa Dayak terbagi dalam enam rumpun besar, iaitu Kenyah-Kayan-Bahau, Ot Danum, Iban, Murut, Klemantan dan Punan। Keenam rumpun ini terbagi lagi kepada lebih kurang 405 sub suku. Meskipun terbagi kepada ratusan sub suku, kelompok suku Dayak memiliki kesamaan ciri-ciri budaya yang khas। Ciri-ciri tersebut menjadi faktor penentu salah suatu sub suku di Kalimantan dapat dimasukkan ke dalam kelompok Dayak। Ciri-ciri tersebut ialah rumah panjang, hasil budaya material seperti tembikar, mandau, sumpit beliong (kapak Dayak) pandangan terhadap alam, mata pencarian (sistem perladangan) dan seni tari.
Suku Alas
LAS merupakan salah
satu suku yang berada di pulau Sumatra tepatnya di Kabupaten Aceh
Tenggara provinsi Aceh. Kata ALAS merupakan arti dari “ Tikar “hal ini
berkaitan dengan letak keadaan daerah tersebut yang membentang datar
seperti tikar dan di hampit oleh bukit barisan serta dilalui berbagai
macam sungai diantaranya adalah Lawe Alas (sungai Alas).
Sebagian
besar suku alas bermukim di pedesaan dan bermata pencaharian di bidang
pertanian dan peternakan. Alas merupakan lumbung padi untuk provinsi
Aceh, selain itu mereka juga bercocok tanam di bidang keret,kopi dan
kemiri serta memanfaatkan hasil hutan yang melimpah ruah, seperti :
kayu,rotan,dammar dan kemenyan.
Kampung atau desa Alas disebut KUTE, suatu kute biasanya di huni oleh satu atau berbagai kelompok yang di sebut Merge. Anggota
satu merge berasal dari satu nenek moyang yang sama. Pola hidup
kekeluargaan mereka adalah kebersamaan dan persatuan. Mereka menarik
garis keturunan patrilineal, artinya garis keturunan laki-laki. Mereka
juga menganut adat eksogami merge, artinya jodoh harus dicari di merge
lain.
Suku
Alas menganut agama Islam akan tetapi masih kental dengan animisme yang
digunakan dalam upacara-upacara dalam pertanian agar ladang meraka
tidak terserag hama dan hasil panen mereka melimpah ruah.
Karena
Alas merupakan perbatasan antara Aceh dengan Medan maka Suku Alas
menggunakan bahasa Batak Alas-Kuletuntuk para Linguist akan tetapi dari
segi budaya dan jati diri orang Alas tidak mau menyebut dirinya sebagai
Orang Batak.Suku mentawai
Secara geografis, letak kepulauan Mentawai berhadapan dengan Samudera Hindia.Untuk menuju ke kepulauan Mentawai, anda harus menyeberangi laut dengan menggunakan perahu motor. Jarak kepulauan Mentawai dari Pantai Padang lebih kurang 100 kilometer. Secara turun temurun, suku Mentawai hidup sederhana di dalam sebuah Uma. Uma merupakan rumah yang terbuat dari kayu pohon. Arsitektur bangunan rumah Mentawai berbentuk panggung.
Kesederhanaan
hidup suku Mentawai terlihat dari cara mereka berpakaian. Pada
umumnya, pakaian suku Mentawai masih tradisional. Kaum lelaki Mentawai
masih mengenakan Kabit yakni penutup bagian tubuh bawah yang hanya terbuat dari kulit kayu. Sementara bagian tubuh atas dibiarkan telanjang begitu saja tanpa mengenakan sehelai kain.
Sikerei, tetua di Mentawai-pun masih mengenakan Kabit. Lain halnya dengan kaum wanita, untuk menutup tubuh bagian bawah, mereka menguntai pelepah daun pisang hingga berbentuk seperti rok. Sementara untuk tubuh bagian atas, mereka merajut daun rumbia hingga berbentuk seperti baju. Kalaupun ada suku Mentawai yang mengenakan kain sarung ataupun pakaian lengkap, jumlahnya hanya beberapa orang saja.
Sikerei, tetua di Mentawai-pun masih mengenakan Kabit. Lain halnya dengan kaum wanita, untuk menutup tubuh bagian bawah, mereka menguntai pelepah daun pisang hingga berbentuk seperti rok. Sementara untuk tubuh bagian atas, mereka merajut daun rumbia hingga berbentuk seperti baju. Kalaupun ada suku Mentawai yang mengenakan kain sarung ataupun pakaian lengkap, jumlahnya hanya beberapa orang saja.
suku mentawai sudah berada pada generasi terakhir.
karena anak-anak mereka sudah tidak mengikuti budaya tradisional lagi.
jadi generasi ayahnya sekarang kmgkinan merupakan generasi yang terakhir.
Foto ayah bersama anak mereka udah...sudah sangat berbeda diakbatkan pengaruh budaya luar
Suku Dani
Suku Dani adalah sebuah suku yang mendiami satu wilayah di Lembah
Baliem yang dikenal sejak ratusan tahun lalu sebagai petani yang
terampil dan telah menggunakan alat / perkakas yang pada awal mula
ditemukan diketahui telah mengenal teknologi penggunaan kapak batu,
pisau yang dibuat dari tulang binatang, bambu dan juga tombak yang
dibuat menggunakan kayu galian yang terkenal sangat kuat dan berat. Suku
Dani masih banyak mengenakan “koteka” (penutup Kemaluan Pria) yang
terbuat dari kunden/labu kuning dan para wanita menggunakan pakaian wah
berasal dari rumput/serat dan tinggal di “honai-honai” (gubuk yang
beratapkan jerami/ilalang). Upacara-upacara besar dan keagamaan, perang
suku masih dilaksanakan (walaupun tidak sebesar sebelumnya).
Suku Dani yang mendiami daerah Lembah Baliem. Merupakan salah satu Suku Terbesar yang mendiami Wilayah Pegunungan Tengah Papua. Selain Suku Dani, Wilayah Pegunungan Tengah Papua didiami oleh suku, Ekari, Moni, Damal, Amugme dan beberapa sub suku lainnya.
Sebagian masyarakat suku Dani menganut agama Kristen atas pengaruh misionaris Eropa yang datang ke tempat itu dan mendirikan misi misionarisnya ketika pada tahun sekitar 1935 pemerintahan Belanda membangun kota Wamena. Kondisi geografis dari tempat tinggal Suku Dani ini sendiri seperti halnya daerah pegunungan tengah di Papua, terdiri dari gunung-gunung tinggi dan sebagian puncaknya bersalju dan lembah-lembah yang luas. Kontur tanahnya sendiri terdiri dari tanah berkapur dan granit dan disekitar lembah yang merupakan perpaduan dari tanah berlumpur yang mengendap dengan tanah liat dan lempung. Daerahnya sendiri beriklim tropis basah karena dipengaruhi oleh letak ketinggian dari permukaan laut, temperatur udara bervariasi antara 80-200Celcius, suhu rata-rata 17,50 Celcius dengan hari hujan 152,42 hari pertahun, tingkat kelembaban diatas 80 %, angin berhembus sepanjang tahun dengan kecepatan rata-rata tertinggi 14 knot dan terendah 2,5 knot.
Mitos menceritakan bahwa orang pertama/ manusia pertama suku Dani bernama Pumpa (Pria) dan Nali nali(Wanita) yang masuk ke Lembah Baliem dari arah timur melalui sebuah Goa. Ada beberapa sumber yang mengatakan Goa pertama tempat keluarnya manusia pertama ini berasal dari Goa Kali Huam (Daerah Siepkosy), ada pula yang mengatakan dari Goa di Daerah Pugima dan sebagian mengatakan bahwa keluarnya Manusia pertama suku dani ini berasal dari dari Pintu masuk angin di daerah Kurima.
Hutan-hutan di mana suku Dani bermukim sangat kaya akan flora dan fauna yang tak jarang bersifat endemic seperti cenderawasih, mambruk, nuri bermacam-macam insect dan kupu-kupu yang beraneka ragam warna dan coraknya. Untuk budaya dari Suku Dani sendiri, meskipun suku Dani penganut Kristen, banyak diantara upacara-upacara mereka masih bercorak budaya lama yang diturunkan oleh nenek moyang mereka. Suku Dani percaya terhadap rekwasi. Seluruh upacara keagamaan diiringi dengan nyanyian, tarian dan persembahan terhadap nenek moyang. Peperangan dan permusuhan biasanya terjadi karena masalah pelintasan daerah perbatasan dan wanita.
Pada rekwasi ini, para prajurit biasanya akan membuat tanfa dengan lemak babi, kerang, bulu-bulu, kus-kus, sagu rekat, getah pohon mangga, dan bunga-bungaan di bagian tubuh mereka. Tangan mereka menenteng senjata-senjata tradisional khas suku Dani seperti tombak, kapak, parang dan busur beserta anak panahnya.
Salah satu kebiasaan unik lainnya dari suku Dani sendiri adalah kebiasaan mereka mendendangkan nyanyian-nyanyian bersifat heroisme dan atau kisah-kisah sedih untuk menyemangati dan juga perintang waktu ketika mereka bekerja. Untuk alat musik yang mengiringi senandung atau dendang ini sendiri adalah biasanya adalah alat musik pikon, yakni satu alat yang diselipkan diantara lubang hidung dan telinga mereka. Disamping sebagai pengiring nyanyian, alat ini pun berfungsi ganda sebagai isyarat kepada teman atau lawan di hutan kala berburu.
Nama Dani sendiri sebenarnya bermakna orang asing, yaitu berasal dari kata Ndani, tapi karena ada perubahan fenom N hilang dan menjadi Dani saja. Suku Dani sendiri sebenarnya lebih senang disebut suku Parim. Suku ini sangat menghormati nenek moyangnya dengan penghormatan mereka biasanya dilakukan melalui upacara pesta babi.
Untuk bahasa sendiri, suku Dani memiliki 3 sub bahasa ibu secara keseluruhan, dan ketiganya termasuk bahasa-bahasa kuno yang kemudian seiring perjalanan waktu, ketiga sub bahasa ibu ini pun memecah menjadi berbagai varian yang dikenal sekarang ini di Papua. Sub bahasa ibu itu adalah;
1. Sub keluarga Wano
2. Sub keluarga Dani Pusat yang terdri ataslogat Dani Barat dan logat lembah Besar Dugawa
3. Sub keluarga Nggalik – Dugawa.
Tak bisa kita pungkiri lagi kalau suku Dani dan seluruh suku yang mendiami Lembah Baliem di Wamena Papua ini merupakan kekayaan budaya yang tak ternilai dan haruslah di lestarikan. Wisata budaya dapat digunakan untuk memperkenalkan keunikannya ke seluruh penjuru dunia.
Bagi anda yang ingin lebih dekat mengenal suku Dani, silahkan berkunjung dan berinteraksi dengan mereka di Lembah Baliem, wamena – papua. mereka sangat terbuka dengan siapa saja.
Apalagi bagi anda yang tinggal di Papua tapi belum pernah ke Wamena, Sekaranglah saatnya. jang lama lagi…..
Suku Dani yang mendiami daerah Lembah Baliem. Merupakan salah satu Suku Terbesar yang mendiami Wilayah Pegunungan Tengah Papua. Selain Suku Dani, Wilayah Pegunungan Tengah Papua didiami oleh suku, Ekari, Moni, Damal, Amugme dan beberapa sub suku lainnya.
Sebagian masyarakat suku Dani menganut agama Kristen atas pengaruh misionaris Eropa yang datang ke tempat itu dan mendirikan misi misionarisnya ketika pada tahun sekitar 1935 pemerintahan Belanda membangun kota Wamena. Kondisi geografis dari tempat tinggal Suku Dani ini sendiri seperti halnya daerah pegunungan tengah di Papua, terdiri dari gunung-gunung tinggi dan sebagian puncaknya bersalju dan lembah-lembah yang luas. Kontur tanahnya sendiri terdiri dari tanah berkapur dan granit dan disekitar lembah yang merupakan perpaduan dari tanah berlumpur yang mengendap dengan tanah liat dan lempung. Daerahnya sendiri beriklim tropis basah karena dipengaruhi oleh letak ketinggian dari permukaan laut, temperatur udara bervariasi antara 80-200Celcius, suhu rata-rata 17,50 Celcius dengan hari hujan 152,42 hari pertahun, tingkat kelembaban diatas 80 %, angin berhembus sepanjang tahun dengan kecepatan rata-rata tertinggi 14 knot dan terendah 2,5 knot.
Mitos menceritakan bahwa orang pertama/ manusia pertama suku Dani bernama Pumpa (Pria) dan Nali nali(Wanita) yang masuk ke Lembah Baliem dari arah timur melalui sebuah Goa. Ada beberapa sumber yang mengatakan Goa pertama tempat keluarnya manusia pertama ini berasal dari Goa Kali Huam (Daerah Siepkosy), ada pula yang mengatakan dari Goa di Daerah Pugima dan sebagian mengatakan bahwa keluarnya Manusia pertama suku dani ini berasal dari dari Pintu masuk angin di daerah Kurima.
Hutan-hutan di mana suku Dani bermukim sangat kaya akan flora dan fauna yang tak jarang bersifat endemic seperti cenderawasih, mambruk, nuri bermacam-macam insect dan kupu-kupu yang beraneka ragam warna dan coraknya. Untuk budaya dari Suku Dani sendiri, meskipun suku Dani penganut Kristen, banyak diantara upacara-upacara mereka masih bercorak budaya lama yang diturunkan oleh nenek moyang mereka. Suku Dani percaya terhadap rekwasi. Seluruh upacara keagamaan diiringi dengan nyanyian, tarian dan persembahan terhadap nenek moyang. Peperangan dan permusuhan biasanya terjadi karena masalah pelintasan daerah perbatasan dan wanita.
Pada rekwasi ini, para prajurit biasanya akan membuat tanfa dengan lemak babi, kerang, bulu-bulu, kus-kus, sagu rekat, getah pohon mangga, dan bunga-bungaan di bagian tubuh mereka. Tangan mereka menenteng senjata-senjata tradisional khas suku Dani seperti tombak, kapak, parang dan busur beserta anak panahnya.
Salah satu kebiasaan unik lainnya dari suku Dani sendiri adalah kebiasaan mereka mendendangkan nyanyian-nyanyian bersifat heroisme dan atau kisah-kisah sedih untuk menyemangati dan juga perintang waktu ketika mereka bekerja. Untuk alat musik yang mengiringi senandung atau dendang ini sendiri adalah biasanya adalah alat musik pikon, yakni satu alat yang diselipkan diantara lubang hidung dan telinga mereka. Disamping sebagai pengiring nyanyian, alat ini pun berfungsi ganda sebagai isyarat kepada teman atau lawan di hutan kala berburu.
Nama Dani sendiri sebenarnya bermakna orang asing, yaitu berasal dari kata Ndani, tapi karena ada perubahan fenom N hilang dan menjadi Dani saja. Suku Dani sendiri sebenarnya lebih senang disebut suku Parim. Suku ini sangat menghormati nenek moyangnya dengan penghormatan mereka biasanya dilakukan melalui upacara pesta babi.
Untuk bahasa sendiri, suku Dani memiliki 3 sub bahasa ibu secara keseluruhan, dan ketiganya termasuk bahasa-bahasa kuno yang kemudian seiring perjalanan waktu, ketiga sub bahasa ibu ini pun memecah menjadi berbagai varian yang dikenal sekarang ini di Papua. Sub bahasa ibu itu adalah;
1. Sub keluarga Wano
2. Sub keluarga Dani Pusat yang terdri ataslogat Dani Barat dan logat lembah Besar Dugawa
3. Sub keluarga Nggalik – Dugawa.
Tak bisa kita pungkiri lagi kalau suku Dani dan seluruh suku yang mendiami Lembah Baliem di Wamena Papua ini merupakan kekayaan budaya yang tak ternilai dan haruslah di lestarikan. Wisata budaya dapat digunakan untuk memperkenalkan keunikannya ke seluruh penjuru dunia.
Bagi anda yang ingin lebih dekat mengenal suku Dani, silahkan berkunjung dan berinteraksi dengan mereka di Lembah Baliem, wamena – papua. mereka sangat terbuka dengan siapa saja.
Suku kanekes
Sebuah tempat yang damai, dikelilingi oleh suasana hijau. Suara angin
yang gemerisik menerpa dedauanan bambu, kicau burung, dan deburan
aliran sungai. Dengarkan bisik alam yang menyapa dalam kemurniannya.
Kanekes atau yang disebut Suku Baduy ini adalah suatu kelompok
masyarakat adat Sunda di wilayah Pegunungan Kendeng, Kabupaten Lebak,
Banten. Populasi mereka sekitar 5.000 hingga 8.000 orang, dan mereka
merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar.
Sebutan “Baduy” merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar. Namun mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau“orang Kanekes” sesuai dengan nama wilayah mereka. Orang Kanekes masih memiliki hubungan sejarah dengan orang Sunda. Orang Kanekes masih memiliki hubungan sejarah dengan orang Sunda. Penampilan fisik dan bahasa mereka mirip dengan orang-orang Sunda pada umumnya, yang membedakan adalah Orang Kanekes lebih menutup diri dari dunia luar dan menjaga secara ketat kehidupan mereka yang tradisional. Sedangkan Masyarakat Sunda lebih terbuka kepada pengaruh asing dan mayoritas memeluk Islam.
Kelompok Suku Kanekes Kelompok Tangtu Kelompok yang dikenal sebagai Kanekes Dalam (Baduy Dalam) yang paling ketat mengikuti adat, yaitu warga yang tinggal di tiga kampung: Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Ciri khas Orang Kanekes Dalam adalah pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua serta memakai ikat kepala putih.
Mereka dilarang secara adat untuk bertemu dengan orang asing (non WNI). Kelompok Kanekes Dalam sangat memegang teguh adat-istiadat nenek moyang mereka. Sebagian peraturan yang dianut oleh suku Kanekes Dalam antara lain:
Kanekes Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Kanekes Dalam. Beberapa hal yang menyebabkan mereka keluar dari Kanekes Dalam seperti melanggar adat-istiadat masyarakat Kanekes Dalam, berkeinginan untk keluar dari Kanekes Dalam, atau menikah dengan anggota Kanekes Luar. Ciri-ciri masyarakat orang Kanekes Luar
Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna, 1993). Isi terpenting dari ‘pikukuh’ (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep “tanpa perubahan apa pun”, atau perubahan sesedikit mungkin. mata pencaharian utama masyarakat Kanekes adalah bertani padi huma.
Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan seperti durian danasam keranji, serta madu hutan. Ada banyak kearifan lokal yang akan di peroleh di Desa Kanekes, sebuah pelajaran yang sangat berarti mengingatkan kita pada jati diri leluhur salah satu suku tua di Nusantara yang masih hidup dengan cara tradisional. Lupakan ponsel atau alat elektronik lainnya saat Anda mengunjungi Desa Kanekes atau yang lebih popular disebut Desa Baduy di Banten.
Selain tidak ada listrik untuk men-charge hp Anda, bahkan sinyal pun sulit didapat. Lebih baik Anda menatap alam sekitar dan mendengarkan suara-suara alam. Di sinilah Anda akan dapati kehidupan masa lalu sebelum memasuki sebuah zaman dari akibat revolusi industri yang menguasai dunia.
Sebutan “Baduy” merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar. Namun mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau“orang Kanekes” sesuai dengan nama wilayah mereka. Orang Kanekes masih memiliki hubungan sejarah dengan orang Sunda. Orang Kanekes masih memiliki hubungan sejarah dengan orang Sunda. Penampilan fisik dan bahasa mereka mirip dengan orang-orang Sunda pada umumnya, yang membedakan adalah Orang Kanekes lebih menutup diri dari dunia luar dan menjaga secara ketat kehidupan mereka yang tradisional. Sedangkan Masyarakat Sunda lebih terbuka kepada pengaruh asing dan mayoritas memeluk Islam.
Kelompok Suku Kanekes Kelompok Tangtu Kelompok yang dikenal sebagai Kanekes Dalam (Baduy Dalam) yang paling ketat mengikuti adat, yaitu warga yang tinggal di tiga kampung: Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Ciri khas Orang Kanekes Dalam adalah pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua serta memakai ikat kepala putih.
Mereka dilarang secara adat untuk bertemu dengan orang asing (non WNI). Kelompok Kanekes Dalam sangat memegang teguh adat-istiadat nenek moyang mereka. Sebagian peraturan yang dianut oleh suku Kanekes Dalam antara lain:
- Tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi
- Tidak diperkenankan menggunakan alas kaki
- Pintu rumah harus menghadap ke utara/selatan (kecuali rumah sang Pu’un atau ketua adat)
- Larangan menggunakan alat elektronik (teknologi)
- Menggunakan kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun dan dijahit sendiri serta tidak diperbolehkan menggunakan pakaian modern.
- Kelompok Panamping
Kanekes Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Kanekes Dalam. Beberapa hal yang menyebabkan mereka keluar dari Kanekes Dalam seperti melanggar adat-istiadat masyarakat Kanekes Dalam, berkeinginan untk keluar dari Kanekes Dalam, atau menikah dengan anggota Kanekes Luar. Ciri-ciri masyarakat orang Kanekes Luar
- Mereka telah mengenal teknologi, seperti peralatan elektronik, meskipun penggunaannya tetap merupakan larangan untuk setiap warga Kanekes, termasuk warga Kanekes Luar. Mereka menggunakan peralatan tersebut dengan cara sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan pengawas dari Kanekes Dalam.
- Proses pembangunan rumah penduduk Kanekes Luar telah menggunakan alat-alat bantu, seperti gergaji, palu, paku, dll, yang sebelumnya dilarang oleh adat Kanekes Dalam.
- Menggunakan pakaian adat dengan warna hitam atau biru tua (untuk laki-laki), yang menandakan bahwa mereka tidak suci. Kadang menggunakan pakaian modern seperti kaos oblong dan celana jeans.
- Menggunakan peralatan rumah tangga modern, seperti kasur, bantal, piring & gelas kaca & plastik.
- Mereka tinggal di luar wilayah Kanekes Dalam.
Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna, 1993). Isi terpenting dari ‘pikukuh’ (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep “tanpa perubahan apa pun”, atau perubahan sesedikit mungkin. mata pencaharian utama masyarakat Kanekes adalah bertani padi huma.
Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan seperti durian danasam keranji, serta madu hutan. Ada banyak kearifan lokal yang akan di peroleh di Desa Kanekes, sebuah pelajaran yang sangat berarti mengingatkan kita pada jati diri leluhur salah satu suku tua di Nusantara yang masih hidup dengan cara tradisional. Lupakan ponsel atau alat elektronik lainnya saat Anda mengunjungi Desa Kanekes atau yang lebih popular disebut Desa Baduy di Banten.
Selain tidak ada listrik untuk men-charge hp Anda, bahkan sinyal pun sulit didapat. Lebih baik Anda menatap alam sekitar dan mendengarkan suara-suara alam. Di sinilah Anda akan dapati kehidupan masa lalu sebelum memasuki sebuah zaman dari akibat revolusi industri yang menguasai dunia.
Langganan:
Postingan (Atom)







.jpg)


























